SIGI – Pemerintah Kabupaten Sigi mendorong penguatan budaya literasi dengan memperluas akses bahan bacaan ke berbagai ruang publik, mulai dari desa, sekolah hingga fasilitas pelayanan kesehatan.
Dorongan tersebut disampaikan Bunda Literasi Kabupaten Sigi, Siti Halwiyah, saat menghadiri Festival Literasi Kabupaten Sigi yang digelar Dinas Perpustakaan dan Kearsipan di Gedung Ampera, Desa Panau, Kecamatan Sigi Biromaru, Kamis (20/8/2026).
Menurut Siti, penguatan budaya membaca tidak cukup hanya mengandalkan perpustakaan. Akses terhadap bahan bacaan dan informasi perlu didekatkan dengan masyarakat melalui penyediaan pojok baca di berbagai lingkungan.
“Bukan hanya ke perpustakaan, tetapi kita juga mengembangkan bagaimana informasi ini harus hadir di sudut-sudut desa. Di sekolah harus memiliki perpustakaan, terus juga ada pojok baca di puskesmas,” ujar Siti.
Ia mengatakan, fasilitas pelayanan kesehatan seperti Puskesmas dapat menjadi salah satu ruang strategis untuk membangun budaya membaca. Masyarakat maupun anak-anak dapat memanfaatkan waktu menunggu pelayanan dengan membaca bahan yang tersedia.
“Kalau orang sedang duduk-duduk menunggu pelayanan, dia bisa mengambil bahan bacaan. Banyak cara yang bisa kita lakukan,” katanya.
Siti menilai, pengembangan literasi membutuhkan keterlibatan berbagai pihak. Tidak hanya Dinas Perpustakaan dan Kearsipan, tetapi juga perangkat daerah, pemerintah desa, sekolah, keluarga, fasilitas kesehatan, komunitas dan masyarakat.
Menurutnya, kolaborasi lintas sektor tersebut penting untuk membangun kecintaan anak terhadap literasi sekaligus mendukung upaya Kabupaten Sigi menuju Kabupaten Layak Anak.
“Kita harus kolaborasi, bersinergi dalam rangka bagaimana literasi ini dicintai oleh semua anak,” ujarnya.
Ia berharap penguatan budaya literasi dapat dimulai dari lingkungan terdekat masyarakat. Salah satunya dengan mendorong setiap desa memiliki perpustakaan atau pojok baca yang mudah diakses anak-anak dan masyarakat.
“Harapan saya bagaimana anak-anak kita, di semua desa ada pojok bacanya,” tuturnya.
Selain penyediaan fasilitas, Siti menekankan pentingnya dukungan kelembagaan dan regulasi dalam pengembangan program literasi. Menurutnya, upaya menuju Kabupaten Layak Anak harus didukung kebijakan yang jelas dan berkelanjutan.
“Kalau kita mau masuk ke Kabupaten/Kota Layak Anak, itu harus berangkat dari kelembagaannya. Harus ada peraturannya, perda, perbup maupun surat-surat edaran,” jelasnya.
Sementara itu, Sekretaris Daerah Kabupaten Sigi, Nuim Hayat, menilai pelaksanaan Festival Literasi menjadi langkah penting untuk memperluas pemahaman masyarakat mengenai makna literasi.
Menurut Nuim, literasi di era perkembangan teknologi tidak lagi sebatas kemampuan membaca dan menulis. Masyarakat juga perlu memiliki kemampuan dalam memahami literasi digital, budaya, media dan berbagai bentuk literasi lainnya.
“Literasi ini tidak lagi sebatas orang bisa baca tulis. Tetapi literasi ini harus lebih luas, ada literasi budaya, literasi digital dan berbagai bentuk literasi lainnya,” kata Nuim.
Ia juga menyoroti pentingnya literasi media bagi generasi muda. Menurutnya, anak-anak perlu memahami fungsi media sekaligus memiliki kemampuan dalam menyaring informasi yang mereka terima.
“Anak-anak juga harus memahami keberadaan dan fungsi media seperti apa. Itu semua menjadi bahan edukasi,” ujarnya.
Nuim berharap Festival Literasi Kabupaten Sigi tidak hanya menjadi kegiatan tahunan, tetapi terus dievaluasi dan dikembangkan agar mampu memberikan dampak yang lebih luas kepada masyarakat.
Festival Literasi Kabupaten Sigi sendiri digelar selama tiga hari, yakni 20, 21 dan 23 Agustus 2026. Kegiatan tersebut diikuti pelajar MTs, SMA/MA sederajat, aparatur sipil negara, perangkat daerah, masyarakat umum hingga pegiat literasi.
Kegiatan menghadirkan narasumber dari kalangan akademisi, pegiat literasi nasional dan daerah, serta praktisi.
Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Sigi, Imron Noor, sebelumnya berharap festival tersebut dapat mendorong lahirnya generasi yang gemar membaca, cerdas, mampu beradaptasi dan memiliki daya saing.
Melalui festival tersebut, Pemerintah Kabupaten Sigi bersama seluruh pemangku kepentingan diharapkan dapat memperkuat ekosistem literasi sehingga aktivitas membaca dan belajar tidak hanya berlangsung di perpustakaan, tetapi juga menjadi bagian dari kehidupan masyarakat hingga ke pelosok desa.





