SIGI – Memasuki hari ke-9 masa tanggap darurat bencana gempa bumi di Kabupaten Sigi, Pemerintah Kabupaten Sigi bersama Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Bencana terus melakukan pendataan, asesmen, serta percepatan penanganan bagi masyarakat terdampak di sejumlah wilayah.
Koordinator Satgas Bencana Kabupaten Sigi yang juga Wakil Bupati Sigi, Samuel Yansen Pongi, menyampaikan bahwa hingga Rabu malam (24/6/2026), aktivitas kegempaan masih terus berlangsung.
Jumlah gempa susulan tercatat mencapai 1.374 kali sejak gempa utama terjadi pada 16 Juni 2026. Bahkan, beberapa jam sebelum laporan dirilis, kembali terjadi gempa berkekuatan Magnitudo 4,4 yang merupakan bagian dari aktivitas Sesar Palolo.
Meski demikian, pemerintah mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan tidak panik, serta terus meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi gempa susulan.
Dari sisi dampak kemanusiaan, tercatat 3 orang meninggal dunia, 78 orang mengalami luka ringan dan telah mendapatkan penanganan medis serta kembali ke rumah masing-masing. Sementara itu, 14 orang mengalami luka berat, dengan 2 orang di antaranya masih menjalani perawatan intensif di rumah sakit.
“Kami terus memantau kondisi para korban dan memastikan pelayanan kesehatan berjalan optimal. Mari kita doakan saudara-saudara kita yang masih dirawat agar segera pulih,” ujar Samuel.
Selain korban jiwa, dampak gempa juga dirasakan oleh ribuan warga. Sebanyak 3.603 kepala keluarga tercatat terdampak dan masih membutuhkan dukungan selama masa tanggap darurat.
Hasil asesmen lapangan menunjukkan sebanyak 3.032 unit rumah terdampak, terdiri dari 1.979 rumah rusak ringan, 796 rumah rusak sedang, dan 277 rumah rusak berat.
Kerusakan juga terjadi pada berbagai fasilitas umum, di antaranya 19 kantor pemerintahan, 29 masjid, 81 gereja, 35 sekolah, 2 unit usaha mikro, 2 jaringan air bersih, 10 fasilitas kesehatan, 1 unit penggilingan, 2 pasar, serta 2 rumah adat.
Pemerintah Kabupaten Sigi memastikan proses pendataan dan asesmen masih terus dilakukan secara bertahap di seluruh wilayah terdampak guna memastikan seluruh kerusakan dapat teridentifikasi dan ditangani secara tepat.
“Kami mengajak masyarakat untuk tetap tenang, tidak mudah percaya pada informasi yang belum terverifikasi, serta mengikuti arahan pemerintah dan petugas di lapangan. Penanganan bencana ini merupakan tanggung jawab bersama dan pemerintah akan terus hadir untuk masyarakat,” tutup Samuel.





