SIGI – Puluhan hektare lahan sawah di Kabupaten Sigi terdampak kekeringan akibat penurunan debit air dan kondisi cuaca panas yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir.
Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan (TPHP) Kabupaten Sigi, Afit Lamakarate, mengatakan data sementara menunjukkan sekitar 30 hingga 40 hektare sawah di Kecamatan Sigi Kota terdampak kekeringan.
“Berdasarkan laporan, hingga saat ini baru masuk data dari Kecamatan Sigi Kota yakni 30 sampai 40 hektare lahan padi sawah masyarakat terdampak kekeringan,” kata Afit di Bora, Senin.
Menurutnya, lahan pertanian yang paling terdampak umumnya berada di luar cakupan jaringan Irigasi Gumbasa. Sejumlah lahan masih mengandalkan sumber air dari sungai tanpa dukungan sistem irigasi teknis.
Salah satu sumber air yang mengalami penurunan debit adalah Sungai Wuno. Kondisi tersebut berdampak terhadap lahan persawahan di sejumlah wilayah, termasuk Desa Oloboju, Desa Bora dan sebagian Desa Watunonju.
“Debit air Sungai Wuno mengalami penurunan signifikan, sehingga mengancam potensi gagal panen pada tanaman padi di sejumlah wilayah,” ujarnya.
Afit menjelaskan, kondisi tanah juga menjadi salah satu faktor yang memengaruhi ketahanan lahan terhadap kekeringan. Sebagian besar tanah di wilayah Sigi memiliki karakteristik aluvial yang relatif mudah menyerap air saat hujan.
Namun, ketika terjadi cuaca panas dengan intensitas tinggi, kandungan air di dalam tanah dapat berkurang dengan cepat akibat penguapan dan proses peresapan.
“Karakter tanah ini sangat mudah menyerap air saat hujan, namun di sisi lain air sangat cepat menguap dan meresap habis ketika terjadi panas terik matahari yang ekstrem seperti saat ini,” jelasnya.
Untuk mengantisipasi meluasnya dampak kekeringan, Pemerintah Kabupaten Sigi mendorong pembangunan sistem irigasi perpipaan di sejumlah wilayah pertanian.
Usulan pembangunan tersebut telah disampaikan melalui Kementerian Pertanian dan Balai Wilayah Sungai Sulawesi III. Dari usulan tersebut, sekitar 80 titik telah disetujui untuk pembangunan irigasi perpipaan yang akan dilaksanakan secara bertahap mulai tahun ini hingga 2027.
Afit mengatakan, pembangunan jaringan irigasi tersebut diharapkan dapat membantu menyediakan sumber air bagi lahan pertanian yang selama ini belum mendapatkan layanan irigasi secara optimal.
Di sisi lain, pemerintah daerah juga terus memperbarui data mengenai luasan lahan yang terdampak kekeringan.
Afit meminta petugas lapangan, termasuk Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) di setiap wilayah, segera melakukan pendataan dan melaporkan perkembangan kondisi lahan pertanian.
“Untuk wilayah 15 kecamatan lainnya belum masuk laporan detailnya. Melalui pembaruan data ini, kita ingin memastikan langkah penanganan tepat sasaran,” katanya.
Pendataan tersebut dinilai penting untuk mengetahui sebaran serta tingkat dampak kekeringan sehingga pemerintah dapat menentukan langkah penanganan berdasarkan kondisi masing-masing wilayah.
Berdasarkan hasil validasi Luas Baku Sawah (LBS), luas lahan sawah di Kabupaten Sigi hingga Desember 2024 tercatat mencapai sekitar 15.280 hektare.
Pemerintah daerah berharap dukungan pembangunan infrastruktur irigasi dan pembaruan data lapangan dapat membantu mengurangi risiko gagal panen sekaligus menjaga produktivitas pertanian masyarakat di tengah kondisi cuaca yang semakin menantang.





