Pemerintah Kabupaten Sigi memperkenalkan filosofi pembangunan “Emas Hijau” sebagai arah kebijakan dalam mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan tetap menjaga kelestarian lingkungan.
Filosofi tersebut disampaikan dalam sambutan pembukaan Festival Danau Lindu 2026 yang berlangsung di kawasan tepian Danau Lindu, Kecamatan Lindu, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah.
“Emas Hijau” menggambarkan kekuatan sektor pertanian, perkebunan, kehutanan, dan pariwisata sebagai sumber daya strategis yang dapat menjadi fondasi perekonomian daerah.
Pembangunan Kabupaten Sigi dinilai tidak harus bergantung pada eksploitasi sumber daya alam yang berpotensi merusak lingkungan. Sebaliknya, potensi alam harus dikelola secara berkelanjutan agar memberikan manfaat ekonomi sekaligus tetap terjaga untuk generasi mendatang.
«“Sigi tidak membutuhkan emas kuning. Sigi membutuhkan emas hijau.”»
Salah satu bentuk implementasi gagasan tersebut adalah pengembangan program pencetakan sawah baru seluas kurang lebih 800 hektare di Desa Olu. Program ini diharapkan dapat memperkuat ketahanan pangan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat, khususnya petani.
Selain sektor pertanian, pengembangan produk unggulan lokal juga terus didorong. Salah satunya adalah beras Kamba yang menjadi bagian dari potensi lokal yang diperkenalkan dalam Festival Danau Lindu 2026.
Pertanian, UMKM, dan pariwisata dipandang sebagai tiga sektor yang saling berkaitan. Pertanian menghasilkan produk, UMKM mengolah dan meningkatkan nilai tambah, sedangkan pariwisata menjadi ruang untuk memperkenalkan sekaligus memasarkan berbagai produk dan potensi daerah.
Festival Danau Lindu 2026 menjadi salah satu momentum untuk mempertemukan berbagai potensi tersebut. Kegiatan ini tidak hanya menjadi ruang pertunjukan seni dan budaya, tetapi juga menjadi wadah untuk mempertemukan gagasan, inovasi, investasi, serta peluang ekonomi bagi masyarakat.
Keterlibatan berbagai pihak, mulai dari pemerintah pusat, lembaga internasional, Bank Indonesia, perguruan tinggi, pemerintah daerah sekitar, hingga komunitas budaya, menunjukkan besarnya perhatian terhadap potensi Danau Lindu dan Kabupaten Sigi.
Kolaborasi lintas sektor diharapkan dapat memperluas promosi dan mempercepat pengembangan kawasan wisata dengan tetap menempatkan masyarakat lokal sebagai bagian penting dari proses pembangunan.
Pariwisata diharapkan mampu menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan pendapatan masyarakat. Namun, pengembangan tersebut harus tetap berjalan seiring dengan upaya menjaga kelestarian alam dan budaya.
Festival Danau Lindu 2026 diharapkan menjadi momentum untuk semakin memperkenalkan Danau Lindu sebagai salah satu destinasi wisata unggulan di Sulawesi Tengah.
Pengembangan kawasan tersebut diarahkan pada sinergi antara pertanian, UMKM, budaya, dan pariwisata sebagai bagian dari strategi membangun ekonomi daerah yang berkelanjutan.
Dengan semangat kolaborasi dan pelestarian alam, Danau Lindu diharapkan tidak hanya menjadi tujuan wisata, tetapi juga menjadi ruang tumbuhnya ekonomi masyarakat.
Ayo ke Lindu, karena Lindu Bikin Rindu.





